Senin, 03 Maret 2014


1. Uji Benedict / Fehling A / Fehling B (uji gula / monosakarida)
Masukkan 5 ml reagen Benedict ke dalam tabung reaksi, kemudian tambahkan 0,5 ml larutan hasil penggerusan bahan makanan! Panaskan tabung dalam  water bath (70 °C) selama 5 menit lalu dinginkan! Amatilah perubahan yang terjadi dalam tabung! Bila dalam makanan terdapat karbohidrat/gula, maka terbentuk endapan merah bata.
2. Uji Iodin (uji karbohidrat / amilum)
Masukkan 5 ml larutan hasil penggerusan bahan makanan karbohidrat/amilum ke dalam tabung reaksi! Tambahkan dua tetes larutan Iod dan amati perubahan yang terjadi dalam tabung! Bila larutan warna berubah menjadi hitam atau kebiruan, maka bahan makanan yang diuji mengandung karbohidrat.
3. Uji Biuret (protein) 
Tambahkan 2 ml larutan biuret (larutan KOH 5 % + larutan CUSO4 5 %) kedalam larutan putih telur. Terjadi perubahan warna larutan putih telurmenjadi ungu. Perubahan warna ungu pada larutan putih telur menunjukkan larutan tersebut mengandung protein
Jika menggunakan Millon: tambahkan 2 ml larutan millon kedalan 2 ml larutan putih telur. Panaskan larutan dalam air mendidih. Terjadi perubahan warna larutan putih telur menjadi merah. Perubahan warna larutan menjadi merah menunjukkan larutan putih telur mengandung protei
4. Tes kandungan lemak 
Teteskan 3 tetes minyak di atas kertas saring/kertas buram. Kertas saring menjadi transparan. Itu bukti kandungan lemak/minyak.
Jika menggunakan Sudan III:Tambahkan 2 ml larutan sudan III kedalam larutan minyak. Terbentuklapisan berwarna merah pada permukaan larutan. Lapisan berwarna merah pada permukaan larutan menunjukkan kandungan lemak dalam larutan



BAB I. 
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Respirasi, atau bernapas, memiliki tiga fungsi utama yaitu untuk mengambil oksigen, untuk mengeluarkan karbon dioksida, dan untuk meregulasi komposisi relatif dari darah. Tubuh membutuhkan oksigen untuk metabolisme makanan. Selama proses metabolisme, oksigen digabungkan dengan atom karbon dalam makanan, memproduksi karbon dioksida (CO2). Sistem pernapasan membawa udara, termasuk oksigen, melalui inspirasi, menghilangkan karbon dioksida melalui ekspirasi.
Sistem pernapasan melibatkan beberapa organ, termasuk hidung, mulut, faring, trakea, diafragma, otot perut, dan mulut kemudian melewati faring dan laring untuk trakea. Trakea, tabung berotot membentang ke bawah dari laring, membagi di ujung bawah menjadi dua cabang yang disebut bronkus primer. Setiap bronkus memasuki paru-paru, di mana ia kemudian membagi ke saluran pernapasan sekunder, bronkiolus dan akhirnya duktus alveolar mikroskopis, yang berisi banyak kantung-kantung kecil yang disebut alveoli. Alveoli dan kapiler bertanggung jawab untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Inspirasi udara proses aktif, disebabkan oleh kontraksi otot.Inspirasi menyebabkan paru-paru untuk mengembang di dalam thorax (dinding dada). Ekspirasi, kontras adalah fungsi pasif, dibawa oleh relaksasi paru-paru, yang mengurangi volume paru-paru dalam dada. Paru-paru mengisi sebagian besar ruang di dalam torax, yang disebut rongga dada, dan sangat elastis, tergantung di dinding toraks. Oleh karena itu, jika udara yang masuk ke ruang antara dada dan paru-paru, salah satu atau kedua paru-paru akan runtuh.




C.  Tujuan Penelitian
o   Membandingkan frekuensi peernapasan seseorang
o   Membandingkan tingkat frekuensi pernapasan dengan kegiatan manusia

D.  Manfaat Penelitian

 Dapat diketahui bahwa frekuensi pernapasaan seseorang akan berbeda jika sedang beraktifitas



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pernapasan ialah proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan atau atau pernapasan dalam dan yang terjadi di dalam paru-paru bernama pernapasan luar.
Adapun organ-organ pernapasan yaitu :
1.      Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam lubang hidung
2.      Rongga hidung dilapisi lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir semua sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung.
3.      Farinx (tekak) adalah pipa berotot yang yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan usofagus pada ketinggian tulang rawan krikoid.
4.      Larinx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang memisahkannya dari kolumna vertebra, berjalan dari farinx sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakhea di bawahnya.
5.      Trakhea atau batang tenggorok kira-kira sembilan sentimeter panjangnya. Trakhea berjalan dari larinx sampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis kelima dan di tempat ini bercabang menjadi dua bronkhus (bronkhi).
6.      Bronkhus yang terbentuk dari belahan dua trakhea pada ketinggian kira-kira vertebra torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trakhea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama.
Kecepatan pernapasan pada wanita lebih tinggi daripada pria. Kalau bernapas secara normal maka ekspirasi akan menyusul inspirasi, dan kemudian ada istirahat sebentar. Inspirasi-ekspirasi-istirahat. Pada bayi yang sakit urutan ini ada kalanya terbalik dan urutannya menjadi : inspirasi-istirahat-ekspirasi. Hal ini disebut pernapasan terbalik.
Kecepatan normal setiap menit :
1.      Bayi baru lahir                   : 30-40 kali per menit
2.      Dua belas bulan                 : 30 kali per menit
3.      Dua sampai lima tahun      : 24 kali per menit
4.      Orang dewasa                   : 10-20 kali per menit
B. Pusat Pernapasan
Pusat peranapasan terdiri dari beberapa kelompok neuron yang terletak bilateral di medula oblongata dan pons pada batang otak, daerah ini dibagi menjadi tiga kelompok neuron utama yaitu :
1.      Kelompok pernapasan dorsal, terletak di bagian dorsal medula, yang terutama menyebabkan inspirasi.
2.      Kelompok ventral, yang terletak di ventrolateral medula, yang terutama menyebabkan ekspirasi.
3.      Pusat pneumotaksik, terletak di sebelah dorsal bagian superior pons, yang terutama mengatur kecepatan dan kedalaman napas.
C. Proses Pernapasan
Perbedaan tekanan antara alveoli dan lingkungan adalah pengendali kekuatan untuk pertukaran gas yang terjadi selama ventilasi. Tekanan alveoli harus lebih rendah dari tekanan udara selama inspirasi (bernapas), dan lebih tinggi selama ekspirasi (menghembuskan nafas). Jika tekanan udara didefinisikan sebagai nol, tekanan negatif alveoli selama inspirasi dan positif selama ekspirasi. Ini perbedaan tekanan yang diciptakan melalui dikoordinasikan gerakan diafragma dan dada, sehingga peningkatan volume paru (Vpulm) selama inspirasi dan penurunan selama ekspirasi.
Otot-otot inspirasi terdiri dari diafragma, sisi tak sama panjang otot, dan eksternal interkostal otot. Kontraksinya menurunkan diafragma dan meningkatkan dan memperluas dada, sehingga memperluas paru-paru pada inspirasi. Oleh karena itu eksternal interkostalis otot aktif dan otot aksesori pernapasan yang diaktifkan untuk bernafas dalam. Selama masa berlangsungnya, diafragma dan lainnya pada inspirasi otot rileks, sehingga meningkatkan diafragma dan menurunkan dan mengurangi volume dada dan paru-paru. Hal ini terjadi karena elastis intrinsik dari paru-paru, ekspirasi diam pasif. Pada saat bernapas lebih dalam, mekanisme aktif juga dapat memainkan peran dalam berakhirnya interkostal internal otot kontrak, dan diafragma didorong ke atas oleh tekanan perut diciptakan oleh otot-otot dinding perut.

D. Otot-Otot Pernapasan
Gerakan diagfragma menyebabkan perubahan volume intratorakal sebesar 75% selama inspirasi tenang. Otot diagfragma melekat di sekeliling bagian rongga toraks, membentuk kubah di atas hepar dan bergerak ke arah bawah seperti piston pada saat berkontraksi. Jarak pergerakan diagfragma berkisar antara 1,5 cm sampai 7 cm saat inspirasi dalam.
Otot inspirasi penting lainnya adalah muskulus interkostalis eksternus, yang berjalan dari iga ke iga secara miring ke arah bawah dan ke depan. Iga-iga berputar seolah-olah bersendi di bagian punggung, sehingga ketika otot interkostalis eksternus berkontraksi, iga-iga di bawah akan terangkat. Gerakan ini akan mendorong sternum ke luar dan memperbesar diameter anteroposterior rongga dada.

E. Jenis-Jenis Pernapasan
Jenis-jenis pernapasan ada 2 yaitu :
1.      Pernapasan Dada
a.       Pernapasan dada terjadi karena aktivitas otot antartulang rusuk. Jika otot antar tulang rusuk eksternal berkontraksi à tulang-tulang rusuk terangkat àrongga dada membesar à tekanan udara mengecil à terjadi inspirasi.
b.      Jika otot antar tulang rusuk internal berkontraksi à tulang-tulang rusuk kembali ke posisi semula à rongga dada mengecil à tekanan udara membesarà terjadi ekspirasi.
2.      Pernapasan Perut
a.       Pernapasan perut terjadi karena aktivitas diafragma. Jika diafragma berkontraksià otot perut berelaksasi à diafragma mendatar à rongga dada membesar àtekanan udara mengecil à terjadi inspirasi.
b.      Jika diafragma relaksasi à otot perut berkontraksi à diafragma naik à rongga dada mengecil à tekanan udara membesar à terjadi ekspirasi.



BAB III 
METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan Bahan :
1.      Jam / stopwatch
BCara Kerja
1.      mencari tiga orang teman untuk terlibat dalam kegiatan ini
2.      Dari ketiga orang tersebut, diberikan dalam waktu yang bersamaan untuk melakukan hal – hal berikut.
3.      Orang 1 dalam keadaan santai atau istirahat
4.      Orang ll melakukan aktivitas lari kecil selama 5 menit
5.      Orang iii meakukan aktivitas naik turun tangga selama 5 menit
6.      Setelah ketiga perlakuan di atas, menghitung frekuensi pernafasan nya setiap menit. Dan mencatat  hasil nya pada tabel

C. Tabel Penelitian
Tabel 1.tabel pengamatan
No
Kegiatan
Fekuensi pernapasan permenit
1
Santai

2
Lari kecil

3
Naik turun





BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN


A.  Deskripsi Data :

Tabel 2. hasil pengamatan
No
Nama oranng
Kegiatan
Fekuensi pernapasan permenit
1
Orang I
Santai
15 / menit
2
Orang II
Lari kecil
34 / menit
3
Orang III
Naik turun
37 / menit

B.  Pembahasan        
Dari hasil percobaan ini didapatkan hasil pada orang I, proses kegiatan dilakukan dengan kegiatan yang santai seperti orang normal pada biasanya dan tidak melakuna aktifitas, setelah itu kami menghitung frekuensi pernapasaan yang didapat dari orang I yaitu 15 kali pernapaasan dalam 1 menit, 
Kemudian percobaan kedua dilakukan oleh model orang II, dengan melakukan aktifitas lari – lari kecil mengelilingi lapangan/sekolah. Pada saat melakukan aktivitas frekuensi pernapasan meningkat karena tubuh memerlukan banyak oksigen untuk melakukan pembakaran dalam tubuh untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk beraktivitas, setelah 1 menit kami menghitung frekuensi pernapaasan orang II tersebut, dalam 1 menit frekuensi pernapasan orang II mencapai 34 kali pernapasan.
Yang terakhir yaitu percobaan naik turun tangga yang dilakukan oleh model orang III, percobaan ini dilakukan hanya jalan menaiki/turun tangga saja, tdk disertai dengan lari kecil. Kemudian setelah 1 menit usai kami mecatatat frekuesi pernapasaan nya, Dalam 1 menit orang III mempunyai prekuensi pernapasan 37 kali pernapasaan. Hal ini disebabkan karena tubuh memerlukan banyak oksigen untuk melakukan pembakaran dalam tubuh untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk beraktivitas, semakin besar aktifitas nya maka semakin banyak pula oksigen yang diperlukan untuk proses pembakaran.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan :
·         Jadi aktifitas yang memerlukan energi besar menghasilkan frekuensi pernapasaan yang lebih besa, dikarenakan pembakaran yang dilakukan membutuhkan oksigen yang besar pula.

B. Saran :
-          Perlu dilakukan lebih banyak percobaan lagi, agar bisa membandingkan frekuensi pernapasaan setiap orang.



DAFTAR PUSTKA :


Saktiyono. 2008. Seribu Pena Biologi. Jakarta : Erlangga
Syamsuri Istamar, dkk. 2007. Biologi SMA Kelas XI. Malang : Erlangga
Tim LBB SSCintersolusi. 2012. TEXT BOOK SSCIntersolusi : SSCI
Pratiwi D. A. 2007. Biologi Untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Erlangga
https://www.google.com/biologi ( laporan frekuensi pernafasan manusia )/Haerul Rachmat
Laporan Fisiologi Pernapasan.htm
diakses : pada pada 9 februari 2013
https://www.google.com/biologi ( laporan frekuensi pernafasan manusia )/Semuanya Ada
            disini  praktikum penghitungan denyut nadi.htm
diakses : pada pada 9 februari 2013
https://www.google.com/biologi( laporan frekuensi pernafasan manusia )/cimplung-Laporan
            praktikum frekuensi pernapasan dan denyut nadi.htm
diakses : pada pada 9 februari 2013
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
SIMULASI
SELEKSI ALAM
O
L
E
H

Like Ulfa Triana
XII IPA 1

SMAN 1 NARMADA
2011/2012




Bab I Pendahuluan
A.     Latar Belakang

Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi.
Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi - dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini.[1][2] Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam.
Meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun sebenarnya biologi evolusionertelah berakar sejak zaman Aristoteles. Namun demikian, Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teorievolusi yang telah banyak terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori Darwin mengenai evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas komunitas sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi.
Seleksi alam yang dimaksud dalam teori evolusi adalah teori bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Dan sesama makhluk hidup akan saling bersaing untuk mempertahankan hidupnya. Atau dapat juga di artikan proses di mana mutasi genetika yang meningkatkan keberlangsungan dan reproduksi suatu organisme menjadi (dan tetap) lebih umum dari generasi yang satu ke genarasi yang lain pada sebuah populasi. Ia sering disebut sebagai mekanisme yang "terbukti sendiri" karena:
  • Variasi terwariskan terdapat dalam populasi organisme.
  • Organisme menghasilkan keturunan lebih dari yang dapat bertahan hidup
  • Keturunan-keturunan ini bervariasi dalam kemampuannya bertahan hidup dan bereproduksi.
Kondisi-kondisi ini menghasilkan kompetisi antar organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Oleh sebab itu, organisme dengan sifat-sifat yang lebih menguntungkan akan lebih berkemungkinan mewariskan sifatnya, sedangkan yang tidak menguntungkan cenderung tidak akan diwariskan ke generasi selanjutnya.
Konsep pusat seleksi alam adalah kebugaran evolusi organisme. Kebugaran evolusi mengukur kontribusi genetika organisme pada generasi selanjutnya. Namun, ini tidaklah sama dengan jumlah total keturunan, melainkan kebugaran mengukur proporsi generasi tersebut untuk membawa gen sebuah organisme.Karena itu, jika sebuah alel meningkatkan kebugaran lebih daripada alel-alel lainnya, maka pada tiap generasi, alel tersebut menjadi lebih umum dalam populasi. Contoh-contoh sifat yang dapat meningkatkan kebugaran adalah peningkatan keberlangsungan hidup dan fekunditas. Sebaliknya, kebugaran yang lebih rendah yang disebabkan oleh alel yang kurang menguntungkan atau merugikan mengakibatkan alel ini menjadi lebih langka. Adalah penting untuk diperhatikan bahwa kebugaran sebuah alel bukanlah karakteristik yang tetap. Jika lingkungan berubah, sifat-sifat yang sebelumnya bersifat netral atau merugikan bisa menjadi menguntungkan dan yang sebelumnya menguntungkan bisa menjadi merugikan.
Seleksi alam dalam sebuah populasi untuk sebuah sifat yang nilainya bervariasi, dapat dikategorikan menjadi tiga jenis. Yang pertama adalah seleksi berarah (directional selection), yang merupakan geseran nilai rata-rata sifat dalam selang waktu tertentu. Kedua, seleksi pemutus(disruptive selection), merupakan seleksi nilai ekstrem, dan sering mengakibatkan dua nilai yang berbeda menjadi lebih umum (dengan menyeleksi keluar nilai rata-rata).. Ketiga, seleksi pemantap(stabilizing selection), yaitu seleksi terhadap nilai-nilai ektrem, menyebabkan penurunan variasi di sekitar nilai rata-rata.[88] Hal ini dapat menyebabkan organisme secara pelahan memiliki sifat yang sama.
Kasus khusus seleksi alam adalah seleksi seksual, yang merupakan seleksi untuk sifat-sifat yang meningkatkan keberhasilan perkawinan dengan meningkatkan daya tarik suatu organisme.
Evolusi memengaruhi setiap aspek dari bentuk dan perilaku organisme. Yang paling terlihat adalah adaptasi perilaku dan fisik yang diakibatkan oleh seleksi alam. Adaptasi-adaptasi ini meningkatkan kebugaran dengan membantu aktivitas seperti menemukan makanan, menghindari predator, dan menarik lawan jenis. Organisme juga dapat merespon terhadap seleksi dengan berkooperasi satu sama lainnya, biasanya dengan saling membantu dalam simbiosis. Dalam jangka waktu yang lama, evolusi menghasilkan spesies yang baru melalui pemisahan populasi leluhur organisme menjadi kelompok baru yang tidak akan bercampur kawin.
Adaptasi merupakan struktur atau perilaku yang meningkatkan fungsi organ tertentu, menyebabkan organisme menjadi lebih baik dalam bertahan hidup dan bereproduksi. Ia diakibatkan oleh kombinasi perubahan acak dalam skala kecil pada sifat organisme secara terus menerus yang diikuti oleh seleksi alam varian yang paling cocok terhadap lingkungannya.  Proses ini dapat menyebabkan penambahan ciri-ciri baru ataupun kehilangan ciri-ciri leluhur.
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa seleksi alam adalah salah satu faktor pendorong terjadinya evolusi (teori darwinisme). Maka dari itu kami melakukan praktik simulasi seleksi alam ini untuk mengetahui proses seleksi alam beserata factor yang mempengaruhinya sebagai salah satu proses pembelajaran mengenai materi tentang ‘Evolusi’.
B.     Tujuan

Melakukan praktik simulasi seleksi alam
Bab II Metode Praktikum
A.     Waktu              : 5 januari 2012
Tempat : lapangan berumput

B.     Alat dan Bahan
1.      Daun berwarna hijau, kuning, dan coklat
2.      Pelubang kertas (prevator)
3.      Gelas beker
4.      Penggaris
5.      Stopwatch

C.     Prosedur kerja
1.      Potong daun berwarna hijau, kuning, dan coklat masing-masing sebanyak 100 buah
2.      Masukkan semua potongan daun ke dalam gelas beker
3.      Gelas beker digoyang goyangkan agar potongan daun tercampur rata
4.      Ukur area tanah berumput seluas 2x2 meter
5.      Sebarkan semua potongan daun pada area tanah berumput yang sudah diukur
6.      Setiap predator mengambil potongan daun tersebut selama dua menit secara bergantian
7.      Setiap setelah satu predator mengambil potongan daun tersebut, sebarkan kembali potongan daun yang terambil ke area tanah berumput agar jumlah potongan daun kembali 100 buah
Bab III Hasil Pengamatan dan Pembahasan
A. Data hasil pengamatan

Macam Data
Warna Daun
Hijau
Kuning
Coklat
A.
Jumlah potongan daun sebelum diambil predator
100
100
100
B.
Jumlah potongan daun setelah diambil oleh predator (sisa daun)



Predator 1
81
78
85
Predator 2
84
82
84
Predator 3
80
76
76
Predator 4
89
72
89
Predator 5
95
65
93
C.
Jumlah potongan daun yang terambil oleh predator




Predator 1
19
22
15

Predator 2
16
18
16

Predator 3
20
24
24

Predator 4
11
28
11

Predator 5
8
35
7
D.
Rata-rata
14,8
25,4
14,6

B. Pembahasan
Pada percobaan ini predator  dapat dikatakan sebagai penyeleksi (proses seleksi alam), sedangkan potongan daun sebagai individu.
Data di atas menunjukkan :
Ø  Daun yang paling banyak terambil adalah daun berwarna kuning
Ø  Daun yang paling sedikit terambil adalah daun berwarna coklat
Ø  Faktor yang mempengaruhi warna daun paling banyak atau paling sedikit terambil adalah :
·        Faktor adaptasi lingkungan, warna daun yang mirip dengan lingkungannnya tidak mudah untuk ditemukan oleh predator dan sebaliknya. Pada percobaan ini warna kuning banyak terambil karena warna kuning paling jelas terlihat pada daerah persebarannya, sedangkan warna hijau hampir sama dan warna coklat yaitu warna yang paling gelap semakin tidak nampak karena sewarna dengan tanah (lingkungannya).
·        Faktor persebaran, potongan daun yang persebarannya tidak merata dapat memudahkan predator untuk menemukannya dan sebaliknya.
·        Factor predator, kejelian predator saat mencari mengambil potongan daun juga dapat mempengaruhi.
Percobaan seleksi alam ini menunjukkan salah satu faktor pendorong terjadinya evolusi (teori darwinisme). Realitasnya dapat diamati dari populasi makhluk hidup di dunia. Berikut factor seleksi alam sebagai salah satu mekanisme evolusi.
a.       Hasil perkawinan makhluk hidup
memungkinkan terjadinya variasi, baik variasi warna, bentuk, maupun kemampuan beradaptasi. Varian atau individu yang adaptif akan tetap hidup dan berkembang, sedangkan individu yang tidak adptif akan punah.
b.      Beberapa factor pembatas di alam
Hal ini mempengaruhi populasi, diantaranya adalah makanan, air, cahaya, tempat hidup, predator, organism penyebab penyakit, dan cuaca yang tidak menguntungkan.
c.       Tingkat kesuksesan perkembangbiakan
Hal ini menentukan pertumbuhan populasi makhluk hidup. Makhluk hidup yang paling adaptif adalah individu yang berhasil dalam perkembang biakan.
d.      Kemampuan individu dalam beradaptasi
Individu yang mampu beradaptasi akan mewariskan sifat-sifat unggul pada generasi berikutnya. Lama-kelamaan sifat-sifat tersebut terakumulasi dan mengubah suatu kelompok individu menjadi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya sehingga terbentuklah spesies baru.
Bab IV PENUTUP
Kesimpulan
            Dari hasil pengamatan di atas dapat disimpulkan bahwa ternyata daun yang berwarna kuning paling banyak terambil, sedangkan yang paling sedikit adalah warna coklat. Dengan faktor dasar yang mempengaruhinya adalah adaptasi warna terhadap lingkungan persebarannya.




Daftar pustaka
Omegawati, Wigati, Hadi, 2010. PR Biologi. Klaten PT. Intan Pariwara